Maandag, 25 Maart 2013

MANUSIA CINTA DAN KASIH




                                         


Disusun Oleh: Nurholis Seha
E-mail: seha.noor22@gmail.com

ABSTRAK

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt., ia diciptakan dari sesuatu yang tidak bernilai yaitu dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam kemudian Allah memberi bentuk dengan sebaik-baiknya bentuk.
Tidak hanya bentuk fisik saja yang bagus, melainkan Allah kemudian mewariskan sifatnya juga kepada manusia yaitu sifat mengasihi dan menyayangi yang dituipkan-Nya melalui ruh yang berasal dari-Nya. Dengan kedua potensi ini diharapkan manusia senantiasa untuk saling mengasihi dan mencintai terhadap sesama dalam tatanan kehidupan berkeluarga atau pun bermasyarakat.
Namun demikian manusia adalah makhluk bebas, dalam artian dia bebas untuk memilih apakah sifat cinta dan kasih akan digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya, menjadikan cinta dan kasih itu untuk mendorong keinginan hawa nafsunya.



PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
            Makhluk yang paling sempurna, itulah manusia. Memiliki bentuk fisik yang indah, lain dari pada makhluk yang diciptakan oleh sang Kholik dan satu hal yang sangat istimewa dari manusia itu sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah akal atau pikiran. Disampin Allah telah mewariskan sifat cinta dan kasih-Nya, Dia pun telah memberikan kemampuan untuk berfikir dalam diri manusia alias akal, sehinggak akal atau pikiran ini akan mengantarkan kepada implementasi mencintai dan mengasihi sesuai dengan yang diinginkan oleh sang Penciptanya sehingga tercipta kehidupa yang damai dan setausa.
            Lantas apa yang akan terjadi ketika sifat cinta atau mencintai dan kasih atau mengasihi itu tidak diimbangi dengan akal yang sehat? Yang akan terjadi adalah cinta dan kasihnya hanya akan diberikan terhadap golongan atau kelompoknya saja tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Sejarah telah membuktikan bahwa cinta dan kasih yang salah yang tidak dibarengi dengan akal yang sehat telah membawa manusia kedalam suatu keterpurukan, yaitu peperangan. Pada masa rezim Hitler (NAZI), diceritakan bahwa rezim tersebut mengkalim golongan manusia yang terbaik adalah mereka yang  memiliki volume otak besar dan memiliki bola mata biru.
            Atas pengetahuan  yang tidak mendasar itu sehingga manusia atau golongan yang tidak memiliki criteria tersebut dianggpa manusia rendah bahkan pada puncaknya NAZI melakukan tindakan yang ekstrim dengan membatai manusia yang tidak sesuai dengan criteria, atas alasan  yang tidak mendasar. Pernyataan manusia terbaik yang dikemukakan oleh kelompok NAZI mungkin saja sebuah konspirasi untuk tercapai keinginannya. Padahal kita tahu bahwa setiap manusia di hadapan tuhan itu adalah sama, yang membedakannya adalah perbuatannya.
            Itu adalah sebagian contoh kecil dari ribuan bahkan jutaan peristiwa yang pernah terjadi di jaman dahulu yang apabila cinta dan kasih itu tidak ditempatkan pada tempatnya, maka yang akan terjadi adalah suatu bencana.

Perumusan Masalah
1.      Hakikat manusia
2.      Cinta dan kasih
3.      Hubungan antara manusia cinta dan kasih
4.      Kesimpulan


PEMBAHASAN
1.      Hakikat Manusia
a.       Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai Wakil Tuhan  di muka dumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan sangat bergantung metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis yang mendasari.
Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (makhluk berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia adalah makhluk yang memiliki prilaku interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego), dan social (superego). Di dalam diri manusia tedapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).
Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mehanibcus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawa sadar yang tidak nampak). Behavior yang menganalisis prilaku yang Nampak saja.  Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek.
Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang lagi sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir , memutuskan, menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.
Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata basyar, insan dan al-nas.
Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi : innama anaa basyarun mitlukum (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; al-ruum : 20), manusia makan dan minum (al-mu’minuum : 33).
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq : 5), yaitu allamal insaana maa lam ya’ (dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 walakad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif.
Dengan demikian al-quran memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau makhluk lain.

b.      Manusia Sebagai Makhluk Tuhan
Meskipun ada teori yang mengatakan manusia hadir dari ketiadaan, melainkan bentuk dari suatu proses evolusi. Sebagai umat yang beragama tentunya kita tidak akan menerima paham tersebut. Hadirnya manusia tidak lepas dari konsept hukum kausalitas (sebab akibat). Manusia ada karena ada yang menciptakan, yaitu Allah Swt. Mengenai penciptaan manusia ada dua porses, yaitu :
1.      Proses azali: merupakan penciptaan manusia secara langsu dari tanah oleh Allah swt. Seperti yang terjadi pada nabi Adam As, ataupun nabi Isa As.
2.      Poses alami: yaitu penciptaan manusia melalui hubungan biologis.

c.       Potensi dasar Manusia
Berikut ini adalah 3 potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu :
1.    Jasmani.
Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah, yang kemudian  diberi bentuk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya.
2.    Ruh
Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja.
3.    Jiwa (an nafsun/rasa dan perasaan).
Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohaniah.
Ibnu sina yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk social dan sekaligus makhluk ekonomi. Manusia adalah makhluk social untuk menyempurnakan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, karena manusia tidak hidup dengan baik tanpa ada orang lain. Dengan kata lain manusia baru bisa mencapai kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul bersama manusia.

2.      Cinta dan Kasih
a.      Definisi Cinta
Cinta adalah sebuah Emosi dari Afeksi yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek.
Cinta dalam pandangan Al-Quran biasa diilustrasikan dengan kata hubb. Ia berarti benih atau pil atau obat. Artinya, seorang yang sedang dimabuk cinta harus diobati dengan mempertemukannya dengan yang dicintainya. Sedangkan dalam perspektif Al-Ghazali, cinta adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat dengan mengharap ridha Allah.
Menurut Ibnu Arabi, cinta selalu identik dengan ketulusan dan kesucian dari segala sifat, sehingga tidak ada tujuan lain selain keinginan bersama yang dicintai (Allah). Hakikat cinta tertinggi dalam Islam adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta keinginan untuk senantiasa dekat dengan-Nya.
Allah SWT berfirman, “Katakan (wahai Muhammad) jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali-Imron: 31).
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman kelak pada hari kiamat, “Di manakah orang-orang yang bercinta kasih karena keagungan-Ku. Pada hari ini (di Padang Mahsyar) Aku menaunginya dalam naungan-Ku, di saat tiada naungan kecuali naungan-Ku” (HR. Muslim).
Dengan demikian cinta dapat ditafsirkan sebagai suatu perasaan yang mendorong kita untuk melakukan tindakan baik secara pasif (selalu mengingat yang dicintainya) maupun aktif (pengorbanan terhadap yang dicintainya) sehingga akan berdampak pada perasaan takut ketika ditinggalkan (objek yang dicintainya).

b.      Definisi Kasih
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerwa Darminta kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan, dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasih.
Kata kasih dalam perspektif islam sedikit berbeda. Dalam al_Qur’and dituliskan bahwa Allah itu Maha pengasih dan Maha penyayang. Maha pengasih_Nya Allah itu berlaku terhadap semua makhluk, tidak ada satupun makhluk hidup yang tidak mendapatkan rizki dari-Nya, meskipun manusia kufur terhadap Allah, Dia tidak alpa untuk memberinya rizki.
Kasih identik dengan objek yang lemah dan tidak memiliki daya dan upaya, sehingga objek tersebut berhak untuk dikasihi, tapi belum tentu objek tersebut dapat disayangi. Artinya manusia adalah makhluk yang lemah karena tercipta dari tanah yang tidak berharga atau dari sperma yang hina yang tidak mampu untuk berbuat apa-apa kecuali karena Allah telah mengasihi mereka, sehingga manusia bisa bernafas, berjalan, berusaha dan lain-lain. Maka dari itu Allahpun berkata atas begitu banyaknya ni’mat atau kasih yang telah diberikan kepada manusia “maka ni’mat Tuham kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Allah adalah Maha pengasih terhadap manusia, dan Allah adalah Maha penyayang yang hanya berlaku terhadap hambanya saja yang beriman dan bertaqwa. Oleh karena itu pintu tobat dan ampunan-Nya hanya akan diberikan kepada mereka-mereka  yang beriman saja.
Analoginya cukup simpel, jika kita menjadi orang yang mampu kemudia kita melihat atau anak jalanan, tentunya kita merasa kasihan kemudian memberikan uang kepadanya padahal anak jalan tersebut tidak memberikan manfaat kepada kita, dan kita tidak tau apakah uang tersebut akan dimanfaatkan atau malah sebaliknya. Lantas apakah kita akan serta merta menyangi anak jalanan tersebut? Tentu saja tidak, rasa sayang itu muncul ketika seseorang melakukan hal yang sesuai denga ekspektasi kita.
3.      Hubungan antara manusia dan cinta kasih
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwasannya kasih dan cinta adalah anugrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, dan itu semua fitrah manusia yang terlahir ke dunia. Adanya manusia bukanlah tanpa tujuan, Allah menciptakan manusia tidak untuk main-main. Dia mengatakan bahwa tujuannya diciptakan manusia tidak lain adalah hanya untuk beribadah kepadanya. Oleh karena itu perasaan kasih dan perasaan cinta harus diimplementasikan dalam bingkai ibadah kepada Allah.
Cinta dan kasih ada pada setiap diri manusia, dan ketika keduanya direfleksikan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat maka akan tercipta hubungan saling tolong menolong, behu-membahu, dan semangat gotong-royong. Orang kaya akan membantu orang miskin, orang yang pintar akan mengajari orang yang belum berpengetahuan, seorang pimpinan akan senantiasa mengayomi masyarkatnya dengan berlaku adil.
Meskipun cinta dan kasih akan menciptakan solidaritas atau pembelaan terhadap sesama, tetap saja akan bernilai salah jika tidak di bimbing oleh tuntunan wahyu atau al-kitab. Zabur, Taurat, Injil, dan al_Qur’an adalah kontrol atau aturan main untuk mengimplementasikan cinta dan kasih yang benar, supaya dapat bernilai ibadah di hadapan Allah.
Contoh kasus, seperti halnya kaum homoseksual atau lesbian, mereka memiliki solidaritas yang baik, saling mencintai dan mengasihi tehadap sesamanya sehingga memperjuangkan haknya untuk dapat hidup bebas layaknya manusia normal, dengan dalih “semua manusia memiliki hak yang sama, hak untuk mengasihi dan menyangi, dan hak untuk bebas memilih jalan hidup”. Sekilas terlihat bahwa yang mereka perjuangkan tidak ada yang salah, toh manusia bebas untuk mencintai dan mengasihi sehingga ia berhak untuk memperjuangkannya. Namum ini tetap saja salah dan tidak dibenarkan karena bersebrangan dengan nilai-nilai agama yang tertulis dalam kitab suci, bahwa lesbi dan homo itu adalah perbuatan dosa dan akan mendatangkan azab sebagaimana yang telah terjadi pada zaman nabi Luth.
Contoh hubungan manusia, cinta, dan kasih yang tidak relefan telah penulis uraikan pada bagian pendahuluan, yaitu pada masa rezim Nazi dibawah kepemimpinan Adholf Hitler, yang mana ribuan jiwa melayang akibat cinta dan kasih yang salah kaprah.
Lantas seperti apakah hubungan manusia, cinta dan kasih yang dibenarkan dan tidak bersebrangan dengan norma-norma agama?. Dalam perspektif idiologi islam hubungan cinta dan kasih itu terbagi menjadi dua, yaitu:
1.      Hubungan vertical: adalah hubuungan antara manusia dengan Allah atau disebut dengan hablum minallah. Beriman kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya. Yaitu melaksanakan rukun iman dan islam.
2.      Hubungan Horizontal: adalah hubungan dengan sesama manusia atau disebut dengan ahbulum minannas. Hubungan kasih dan sayayang dengan sesama manusia itu identik dengan kehidupan sosial dalam bermasyarakat, seperti halnya jual beli, musyawarah untuk mencapai suatu mufakat, pernikahan, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, yang mana prilaku ini lah yang disebut dengan amal sholeh.

4.      Kesimpulan
Manusia, cinta dan kasih adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dengan mengimplementasikan cinta dan kasih terhadap sesama atas dasar perintah sang Pencipta merupakan pintu untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.
Namun ketika cinta dan kasih itu disalah artikan dan tidak disadari oleh agama, maka yang akan terjadi adalah kerugian, baik terhadap diri sendiri bahkan orang banyak.
Cinta itu berasal dari Allah, maka sudah sepatutnya kita mencintai apapun kecuali karena kecintaan kita kepada-Nya.. demikian artikel ini penulis sajikan, semoga bermanfaat dan kebenaran berasal hanya dari Allah, kesalahan kecuali dari penulis sendiri. Wassalam.

REFERENSI
1.      Al_Qur’an
2.      Abdullah, Abd. Malik. 2009. Pendidikan  Agama Islam. Makassar : Tim Dosen Penididikan Agama Islam UNM.
3.      Muhammadong. 2009. Pendidikan Agama Islam. Makassar : Tim Dosen Pendidikan Agama Islam UNM.
5.      "http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi





Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking