Maandag 25 Maart 2013

MANUSIA CINTA DAN KASIH




                                         


Disusun Oleh: Nurholis Seha
E-mail: seha.noor22@gmail.com

ABSTRAK

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt., ia diciptakan dari sesuatu yang tidak bernilai yaitu dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam kemudian Allah memberi bentuk dengan sebaik-baiknya bentuk.
Tidak hanya bentuk fisik saja yang bagus, melainkan Allah kemudian mewariskan sifatnya juga kepada manusia yaitu sifat mengasihi dan menyayangi yang dituipkan-Nya melalui ruh yang berasal dari-Nya. Dengan kedua potensi ini diharapkan manusia senantiasa untuk saling mengasihi dan mencintai terhadap sesama dalam tatanan kehidupan berkeluarga atau pun bermasyarakat.
Namun demikian manusia adalah makhluk bebas, dalam artian dia bebas untuk memilih apakah sifat cinta dan kasih akan digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya, menjadikan cinta dan kasih itu untuk mendorong keinginan hawa nafsunya.



PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
            Makhluk yang paling sempurna, itulah manusia. Memiliki bentuk fisik yang indah, lain dari pada makhluk yang diciptakan oleh sang Kholik dan satu hal yang sangat istimewa dari manusia itu sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah akal atau pikiran. Disampin Allah telah mewariskan sifat cinta dan kasih-Nya, Dia pun telah memberikan kemampuan untuk berfikir dalam diri manusia alias akal, sehinggak akal atau pikiran ini akan mengantarkan kepada implementasi mencintai dan mengasihi sesuai dengan yang diinginkan oleh sang Penciptanya sehingga tercipta kehidupa yang damai dan setausa.
            Lantas apa yang akan terjadi ketika sifat cinta atau mencintai dan kasih atau mengasihi itu tidak diimbangi dengan akal yang sehat? Yang akan terjadi adalah cinta dan kasihnya hanya akan diberikan terhadap golongan atau kelompoknya saja tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama. Sejarah telah membuktikan bahwa cinta dan kasih yang salah yang tidak dibarengi dengan akal yang sehat telah membawa manusia kedalam suatu keterpurukan, yaitu peperangan. Pada masa rezim Hitler (NAZI), diceritakan bahwa rezim tersebut mengkalim golongan manusia yang terbaik adalah mereka yang  memiliki volume otak besar dan memiliki bola mata biru.
            Atas pengetahuan  yang tidak mendasar itu sehingga manusia atau golongan yang tidak memiliki criteria tersebut dianggpa manusia rendah bahkan pada puncaknya NAZI melakukan tindakan yang ekstrim dengan membatai manusia yang tidak sesuai dengan criteria, atas alasan  yang tidak mendasar. Pernyataan manusia terbaik yang dikemukakan oleh kelompok NAZI mungkin saja sebuah konspirasi untuk tercapai keinginannya. Padahal kita tahu bahwa setiap manusia di hadapan tuhan itu adalah sama, yang membedakannya adalah perbuatannya.
            Itu adalah sebagian contoh kecil dari ribuan bahkan jutaan peristiwa yang pernah terjadi di jaman dahulu yang apabila cinta dan kasih itu tidak ditempatkan pada tempatnya, maka yang akan terjadi adalah suatu bencana.

Perumusan Masalah
1.      Hakikat manusia
2.      Cinta dan kasih
3.      Hubungan antara manusia cinta dan kasih
4.      Kesimpulan


PEMBAHASAN
1.      Hakikat Manusia
a.       Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai Wakil Tuhan  di muka dumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan sangat bergantung metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis yang mendasari.
Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (makhluk berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia adalah makhluk yang memiliki prilaku interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego), dan social (superego). Di dalam diri manusia tedapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).
Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mehanibcus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawa sadar yang tidak nampak). Behavior yang menganalisis prilaku yang Nampak saja.  Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek.
Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang lagi sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir , memutuskan, menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.
Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata basyar, insan dan al-nas.
Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi : innama anaa basyarun mitlukum (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; al-ruum : 20), manusia makan dan minum (al-mu’minuum : 33).
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq : 5), yaitu allamal insaana maa lam ya’ (dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 walakad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif.
Dengan demikian al-quran memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau makhluk lain.

b.      Manusia Sebagai Makhluk Tuhan
Meskipun ada teori yang mengatakan manusia hadir dari ketiadaan, melainkan bentuk dari suatu proses evolusi. Sebagai umat yang beragama tentunya kita tidak akan menerima paham tersebut. Hadirnya manusia tidak lepas dari konsept hukum kausalitas (sebab akibat). Manusia ada karena ada yang menciptakan, yaitu Allah Swt. Mengenai penciptaan manusia ada dua porses, yaitu :
1.      Proses azali: merupakan penciptaan manusia secara langsu dari tanah oleh Allah swt. Seperti yang terjadi pada nabi Adam As, ataupun nabi Isa As.
2.      Poses alami: yaitu penciptaan manusia melalui hubungan biologis.

c.       Potensi dasar Manusia
Berikut ini adalah 3 potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu :
1.    Jasmani.
Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah, yang kemudian  diberi bentuk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainnya.
2.    Ruh
Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja.
3.    Jiwa (an nafsun/rasa dan perasaan).
Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohaniah.
Ibnu sina yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk social dan sekaligus makhluk ekonomi. Manusia adalah makhluk social untuk menyempurnakan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, karena manusia tidak hidup dengan baik tanpa ada orang lain. Dengan kata lain manusia baru bisa mencapai kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul bersama manusia.

2.      Cinta dan Kasih
a.      Definisi Cinta
Cinta adalah sebuah Emosi dari Afeksi yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek.
Cinta dalam pandangan Al-Quran biasa diilustrasikan dengan kata hubb. Ia berarti benih atau pil atau obat. Artinya, seorang yang sedang dimabuk cinta harus diobati dengan mempertemukannya dengan yang dicintainya. Sedangkan dalam perspektif Al-Ghazali, cinta adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat dengan mengharap ridha Allah.
Menurut Ibnu Arabi, cinta selalu identik dengan ketulusan dan kesucian dari segala sifat, sehingga tidak ada tujuan lain selain keinginan bersama yang dicintai (Allah). Hakikat cinta tertinggi dalam Islam adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta keinginan untuk senantiasa dekat dengan-Nya.
Allah SWT berfirman, “Katakan (wahai Muhammad) jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali-Imron: 31).
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman kelak pada hari kiamat, “Di manakah orang-orang yang bercinta kasih karena keagungan-Ku. Pada hari ini (di Padang Mahsyar) Aku menaunginya dalam naungan-Ku, di saat tiada naungan kecuali naungan-Ku” (HR. Muslim).
Dengan demikian cinta dapat ditafsirkan sebagai suatu perasaan yang mendorong kita untuk melakukan tindakan baik secara pasif (selalu mengingat yang dicintainya) maupun aktif (pengorbanan terhadap yang dicintainya) sehingga akan berdampak pada perasaan takut ketika ditinggalkan (objek yang dicintainya).

b.      Definisi Kasih
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerwa Darminta kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan, dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasih.
Kata kasih dalam perspektif islam sedikit berbeda. Dalam al_Qur’and dituliskan bahwa Allah itu Maha pengasih dan Maha penyayang. Maha pengasih_Nya Allah itu berlaku terhadap semua makhluk, tidak ada satupun makhluk hidup yang tidak mendapatkan rizki dari-Nya, meskipun manusia kufur terhadap Allah, Dia tidak alpa untuk memberinya rizki.
Kasih identik dengan objek yang lemah dan tidak memiliki daya dan upaya, sehingga objek tersebut berhak untuk dikasihi, tapi belum tentu objek tersebut dapat disayangi. Artinya manusia adalah makhluk yang lemah karena tercipta dari tanah yang tidak berharga atau dari sperma yang hina yang tidak mampu untuk berbuat apa-apa kecuali karena Allah telah mengasihi mereka, sehingga manusia bisa bernafas, berjalan, berusaha dan lain-lain. Maka dari itu Allahpun berkata atas begitu banyaknya ni’mat atau kasih yang telah diberikan kepada manusia “maka ni’mat Tuham kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Allah adalah Maha pengasih terhadap manusia, dan Allah adalah Maha penyayang yang hanya berlaku terhadap hambanya saja yang beriman dan bertaqwa. Oleh karena itu pintu tobat dan ampunan-Nya hanya akan diberikan kepada mereka-mereka  yang beriman saja.
Analoginya cukup simpel, jika kita menjadi orang yang mampu kemudia kita melihat atau anak jalanan, tentunya kita merasa kasihan kemudian memberikan uang kepadanya padahal anak jalan tersebut tidak memberikan manfaat kepada kita, dan kita tidak tau apakah uang tersebut akan dimanfaatkan atau malah sebaliknya. Lantas apakah kita akan serta merta menyangi anak jalanan tersebut? Tentu saja tidak, rasa sayang itu muncul ketika seseorang melakukan hal yang sesuai denga ekspektasi kita.
3.      Hubungan antara manusia dan cinta kasih
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwasannya kasih dan cinta adalah anugrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, dan itu semua fitrah manusia yang terlahir ke dunia. Adanya manusia bukanlah tanpa tujuan, Allah menciptakan manusia tidak untuk main-main. Dia mengatakan bahwa tujuannya diciptakan manusia tidak lain adalah hanya untuk beribadah kepadanya. Oleh karena itu perasaan kasih dan perasaan cinta harus diimplementasikan dalam bingkai ibadah kepada Allah.
Cinta dan kasih ada pada setiap diri manusia, dan ketika keduanya direfleksikan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat maka akan tercipta hubungan saling tolong menolong, behu-membahu, dan semangat gotong-royong. Orang kaya akan membantu orang miskin, orang yang pintar akan mengajari orang yang belum berpengetahuan, seorang pimpinan akan senantiasa mengayomi masyarkatnya dengan berlaku adil.
Meskipun cinta dan kasih akan menciptakan solidaritas atau pembelaan terhadap sesama, tetap saja akan bernilai salah jika tidak di bimbing oleh tuntunan wahyu atau al-kitab. Zabur, Taurat, Injil, dan al_Qur’an adalah kontrol atau aturan main untuk mengimplementasikan cinta dan kasih yang benar, supaya dapat bernilai ibadah di hadapan Allah.
Contoh kasus, seperti halnya kaum homoseksual atau lesbian, mereka memiliki solidaritas yang baik, saling mencintai dan mengasihi tehadap sesamanya sehingga memperjuangkan haknya untuk dapat hidup bebas layaknya manusia normal, dengan dalih “semua manusia memiliki hak yang sama, hak untuk mengasihi dan menyangi, dan hak untuk bebas memilih jalan hidup”. Sekilas terlihat bahwa yang mereka perjuangkan tidak ada yang salah, toh manusia bebas untuk mencintai dan mengasihi sehingga ia berhak untuk memperjuangkannya. Namum ini tetap saja salah dan tidak dibenarkan karena bersebrangan dengan nilai-nilai agama yang tertulis dalam kitab suci, bahwa lesbi dan homo itu adalah perbuatan dosa dan akan mendatangkan azab sebagaimana yang telah terjadi pada zaman nabi Luth.
Contoh hubungan manusia, cinta, dan kasih yang tidak relefan telah penulis uraikan pada bagian pendahuluan, yaitu pada masa rezim Nazi dibawah kepemimpinan Adholf Hitler, yang mana ribuan jiwa melayang akibat cinta dan kasih yang salah kaprah.
Lantas seperti apakah hubungan manusia, cinta dan kasih yang dibenarkan dan tidak bersebrangan dengan norma-norma agama?. Dalam perspektif idiologi islam hubungan cinta dan kasih itu terbagi menjadi dua, yaitu:
1.      Hubungan vertical: adalah hubuungan antara manusia dengan Allah atau disebut dengan hablum minallah. Beriman kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi apa-apa yang dilarangnya. Yaitu melaksanakan rukun iman dan islam.
2.      Hubungan Horizontal: adalah hubungan dengan sesama manusia atau disebut dengan ahbulum minannas. Hubungan kasih dan sayayang dengan sesama manusia itu identik dengan kehidupan sosial dalam bermasyarakat, seperti halnya jual beli, musyawarah untuk mencapai suatu mufakat, pernikahan, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, yang mana prilaku ini lah yang disebut dengan amal sholeh.

4.      Kesimpulan
Manusia, cinta dan kasih adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dengan mengimplementasikan cinta dan kasih terhadap sesama atas dasar perintah sang Pencipta merupakan pintu untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.
Namun ketika cinta dan kasih itu disalah artikan dan tidak disadari oleh agama, maka yang akan terjadi adalah kerugian, baik terhadap diri sendiri bahkan orang banyak.
Cinta itu berasal dari Allah, maka sudah sepatutnya kita mencintai apapun kecuali karena kecintaan kita kepada-Nya.. demikian artikel ini penulis sajikan, semoga bermanfaat dan kebenaran berasal hanya dari Allah, kesalahan kecuali dari penulis sendiri. Wassalam.

REFERENSI
1.      Al_Qur’an
2.      Abdullah, Abd. Malik. 2009. Pendidikan  Agama Islam. Makassar : Tim Dosen Penididikan Agama Islam UNM.
3.      Muhammadong. 2009. Pendidikan Agama Islam. Makassar : Tim Dosen Pendidikan Agama Islam UNM.
5.      "http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi





SUKU BADUY


ILMU BUDAYA DASAR (IBD)

               MENGENAL SUKU BADUY
Disusun Oleh: Nurholis Seha
E-mail: seha.noor22@gmail.com

ABSTRAK
Indonesia merupakan salah sahatu Negara yang kaya akan keaneka ragaman budayanya yang tersebar mulai dari Sabang sampai ke Merauke. Adanya keaneka ragaman budaya di Indonesia tidak terlepas dari banyaknya suku-suku yang menempati tanah nusantara ini, keberadaannya tidak bisa dihitung dengan jari bisa ratusan bahkan ribuan, dan salah satunya adalah suku Baduy.
Suku Baduy atau Orang Kanekes adalah suku asli masyarakat Banten. Komunitas suku ini tinggal di  Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat Ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang.
Keberadaan mereka bisa dikatakan masih terisolasi dari masyarakat modern, tapi meskipun demikian mereka tidak menutup ruang untuk dapat dikunjungi oleh masyarakat moderen, sehingga berkunjung ke komunitas suku baduy pedalaman dijadikan salah satu objek wisata sekaligus penelitian sejarawan di daerah provinsi Banten.


PENDAHULUAN
ETIMOLOGI
Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti  yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok  yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden) seperti halnya suku bangsa Arab yang memiliki nama hampir sama juga, yaitu suku Badui. Konon katanya, sebutan “baduy” diberikan oleh pemerintahan kesultanan Banten ketika itu terhadap masyarakat asli banten yang enggan untuk menerima ajaran islam seperti halnya suku badui di masa nabi Muhammad Saw. Dan atas sikap penolakan mereka terhadap islam, sehingga mereka diasingkan ke daerah pedalaman.
Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

WILAYAH
Banten merupakan sebuah provinsi di sebelah barat Pulau Jawa memiliki moto  “Iman Taqwa”. Moto ini mengartikan bahwa seluruh masyarakat Banten adalah orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan yang kuat dan mendominasi hampir seluruh kehidupan mereka. Ibu kota Banten adalah Serang. Hari jadi provinsi Banten adalah 4 Oktober 2000. Titik koordinat wilayah Banten adalah  5° 7' 50" - 7° 1' 11" LS dan 105° 1' 11" - 106° '12" BT.
Untuk saat ini pemerintahan Provinsi banten dipimpin oleh Gubernur Hj. Ratu Atut Chosiyah. Luas wilayah Banten sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2000 adalah 9.160,70 km2, dengan Populasi  10.644.030 jiwa, dan kepadatan 1.161,9/km².
Demografi Banten sendiri terdiri dari  Suku bangsa Banten  dengan presentase sebesar 47% dari jumlah penduduk, Sunda dengan presentase sebesar  23% dari jumlah penduduk, dengan presentase sebesar Jawa 12% dari jumlah penduduk, dengan presentase sebesar  Betawi 9,62% dari jumlah penduduk, Tionghoa dengan presentase sebesar  1,1% dari jumlah penduduk, Batak dengan presentase sebesar  0,93% dari jumlah penduduk, Minangkabau dengan presentase sebesar  0,81%, dari jumlah penduduk Lain-lain dengan presentase sebesar  54% dari jumlah penduduk. Mereka berbahasa Sunda, Jawa Banten, Indonesia, dan Betawi. Dan kebanyakan mereka memeluk agama Islam, karena hampir 96,6% jumlah presentase pemeluk agama islam. Sedangkan yang beragama Kristen 1,2%, Katolik 1%, Buddha 0,7%, dan  Hindu 0,4%.
Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial selain karena batas daerahnya. Batas daerah Banten sebelah utara adalah Laut Jawa, yang dikenal dengan potensi perikanan yang cukup bagus bagi Jawa. Kemudian sebelah Barat berbatasan dengan Selat Sunda, yang merupakan merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia, dan Singapura. Disebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, yang berpotensi untuk memperkaya mata pencarian penduduknya, dengan berlayar mencari ikan besar. Dan yang terakhir di sebelah timur, yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Di samping itu Banten merupakan jalur penghubung antara Jawa dan Sumatera. Bila dikaitkan posisi geografis dan pemerintahan maka wilayah Banten terutama daerah Tangerang raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang selatan) merupakan wilayah penyangga bagi Jakarta. Secara ekonomi wilayah Banten memiliki banyak industri. Wilayah Provinsi Banten juga memiliki beberapa pelabuhan laut yang dikembangkan sebagai antisipasi untuk menampung kelebihan kapasitas dari pelabuhan laut di Jakarta dan ditujukan untuk menjadi pelabuhan alternatif selain Singapura.
Iklim Banten sendiri adalah Iklim Tropis.  Daerah Banten terbagi menjadi 8 daerah kabupaten/kota. Diantaranya adalah Kota Tangerang Selatan, Ciputat, Kota Cilegon, Kota Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Pandeglang                Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Tangerang.
Di Provinsi Banten terdapat suku asli, yaitu Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, ya­­ng harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak. Masyarakat Baduy memiliki tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar yang terletak di Pegunungan Keundeng. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat.
Kadang kala suku Baduy juga menyebut dirinya sebagai orang Kanekes, karena berada di Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang.

PEMBAHASAN
SEJARAH SUKU BADUY
Menurut kepercayaan warga sejarah suku baduy dalam berasal dari Batara Cikal, yaitu salah satu dari tujuh dewa yang di turunkan ke bumi. Batara cikal memiliki peran untuk mengatur keseimbangan di bumi. Versi ini hampir sama persis dengan cerita di turunkannya nabi Adam, sebagai makhluk pertama dan memiliki tugas untuk mengelola bumi. Suku baduy pun percaya bahwa mereka adalah keturunan nabi Adam.

a.      Sejarah Suku Baduy Dalam Menurut Ahli Sejarah
Sedangkan pada versi yang lain, para ahli sejarah memiliki pendapat sendiri terkait sejarah suku baduy. Pendapat mereka berdasar pada temuan prasasti sejarah, kemudian di telusuri pula melalui catatan para pelaut dari Portugis dan Tiongkok serta di hubungkan dengan cerita rakyat tentang Tatar Sunda. Meskipun pada kenytaannya, cerita mengenai Tatar Sunda ini sangan sedikit sekali referensinya.
Menurut ahli sejarah, masyarakat baduy (kanekes) memiliki kaitan dengan kerajaan Pajajaran (saat ini wilayah Bogor). Yang di ketahui, Pajajaran ada sekitar di abad ke-16. Pada saat dimana kerajaan atau kesultanan Banten belum berdiri, wilayah yang kemudian menjadi kesultanan Banten, ialah daerah yang sangat penting dan memiliki peranan yang signifikan. Saat itu, Banten masih menjadi bagian dari wilayah kerajaan Sunda. Banten berfungsi sebagai pelabuhan yang memang terkenal besar.
Di banten terdapat sungat Ciujung yang berfungsi sebagai pelabuhan dan bisa di lewati beragam jenis perahu. Sungai ini menjadi lalu lintas angkutan barang-barang hasil pertanian dari wilayah pedalaman. Pangeran Pucuk, penguasa saat itu merasa perlu untuk melestarikan dan menjaga wilayah tersebut, terutama terkait kelestarian sungainya. Wilayah itu di kenal dengan nama Gunung Kendeng.
Karena alasan itu, pangeran pucuk memerintahkan pasukan prajurit pilihan untuk menjaga kelestarian Gunung Kendeng-Sungai Ciujung. Mereka tinggal dan bertugas sebagai penjaga wilayah tersebut. Maka, dengan adanya pasukan kerajaan tersebut, lambat laun kehidupan mulai berjalan normal. Jadi bisa di simpulkan bahwa sejarah suku Baduy dalam dan yang hari ini kita kenal adalah berasal dari pasukan yang di utus oleh Pangeran Pucuk yang bertugas melestarikan sungai Ciujung – gunung Kendeng. Pada masanya, suku baduy menutup identitas mereka terhadap orang luar. Karena di khawatirkan akan di ketahui oleh musuh-musuh kerajaan Pajajaran.

b.     Sejarah Suku Baduy Dalam Versi Van Tricht
Versi ketiga tekait sejarah suku baduy dalam ialah dari dokter Van Tricht yang berkunjung ke Baduy di tahun 1982 kemudian mengadakan penelitian terkait kesehatan masyarakat disana. Van Tricht tidak mengakui kedua pendapat diatas, ia memiliki pendapat sendiri mengenai sejarah suku baduy dalam dan ia mengatakan bahwa masyarakata Baduy sudah ada sejak lama disana dan merupakan masyarakat asli sana. Menurut Van Tricht masyarkat baduy terutama warga masyarakat suku baduy dalam memiliki sifat yang menolak keras dan tidak bisa mengadopsi kebudayaan luar. Selain itu, menurutnya masyarakat baduy dalam sangat mempertahankan kebudayaannya. Itu terbukti suku baduy dalam masih sangat ketat untuk mempertahankan kebudayaan nenek moyang mereka.
Pendapat Van tricht terkait sejarah suku baduy dalam ini sejalan dengan pendapat Danasasmita dan Djatisunda (1986:4-5). Menurut dua ahli ini saat itu raja yang berkuasa di wilayah sekitar Baduy adalah Rakeyan Darmasiska, raja ini memerintahkan masyarakat Baduy yang memang sudah tinggal disana dari dahulu untuk memelihara Kabuyutan (tempat pemujaan nenek moyang). Menjadikan kawasan tersebut sebagai “Mandala” atau kawaan suci. Masyarakatnya sendiri di kenal memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan (wiwitan:asli,pokok). Sampai sekarang pun masyarakat baduy masih memegang teguh kepercayaan tersebut.

BAHASA DAN KEPERCAYAAN
a)      Bahasa
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis.
b)      Kepercayaan
Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai  Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (Animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh Agama Buddha, Hindu, . Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang, Pertanian bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan  Bajak, tidak membuat Terasering (halaman belum tersedia), hanya menanam dengan  Tugal (halaman belum tersedia), yaitu sepotong Bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah  Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).
Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya  Islam.

PEMBAGIAN MASYARAKAT SUKU BADUY
Masyarakat suku Baduy sendiri terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok terbesar disebut dengan Baduy Luar atau Urang Panamping yang tinggal disebelah utara Kanekes. Mereka berjumlah sekitar 7 ribuan yang menempati 28 kampung dan 8 anak kampung. Mereka tinggal di desa Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, yang mengelilingi wilayah baduy dalam. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.  Suku Baduy Luar biasanya sudah banyak berbaur dengan masyarakat Sunda lainnya. selain itu mereka juga sudah mengenal kebudayaan luar, seperti bersekolah.
Sementara di bagian selatannya dihuni masyarakat Baduy Dalam atau Urang Dangka. Diperkirakan mereka berjumlah 800an orang yang tersebar di Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana. Kelompok tangtu (baduy dalam). Suku Baduy Dalam tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir dan belum masuk kebudayaan luar. Memiliki kepala adat yang membuat peraturan-peraturan yang harus dipatuhi biasa disebut Pu’un. Orang Baduy dalam tinggal di 3 kampung,yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik.
Kelompok Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kedua kelompok ini memang memiliki ciri yang beda. Bila Baduy Dalam menyebut Baduy Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar menyebut Badui Dalam dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan. Ciri lainnya, pakaian yang biasa dikenakan Baduy Dalam lebih didominasi berwarna putih-putih. Sedangkan, Baduy Luar lebih banyak mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala bercorak batik warna biru.
Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun. Puun ini bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun, yang tidak boleh meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat dipimpin oleh Puun Tri Tunggal, yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun Janteu di Kampung Cibeo dan Puun Kiteu di Cikartawana. Sedangkan wakilnya pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu yang berfungsi sebagai juru bicara dengan pemerintahan desa, pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Di Baduy Luar sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah yang dibantu Jaro Tanggungan, Tanggungan dan Baris Kokolot.

MATA PENCAHARIAN
Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian kecil telah mengenal berdagang. Kepercayaan yang dianut masyarakat Kanekes adalah Sunda Wiwitan.didalam baduy dalam, Ada semacam ketentuan tidak tertulis bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid dan Kaukasoid tidak boleh masuk ke wilayah Baduy Dalam. Jika semua ketentuan adat ini di langgar maka akan kena getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah suku Baduy sendiri.
Adapun sebutan siku Baduy menurut cerita adalah asalnya dari kata Badui, yakni sebutan dari golongan/ kaum Islam yang maksudnya karena suku itu tidak mau mengikuti dan taat kepada ajaran agama Islam, sedangkan disaudi Arabia golongan yang seperti itu disebut Badui maksudnya golongan yang membangkang tidak mau tunduk dan sulit di atur sehingga dari sebutan Badui inilah menjadi sebutan Suku Baduy.
Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah PRABU BRAMAIYA MAISATANDRAMAN dengan gelar PRABU SILIWANGI.
Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah SUNAN GUNUNG JATI dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua”
Artinya : jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan “ Suku baduy masih setia dengan adat istiadatnya yang menjalani kehidupan seperti leluhurnya. Tak heran, jika orang Baduy Dalam hingga kini tetap pantang menggunakan sabun, menumpang mobil atau mengendarai sepeda motor. Bahkan tak pernah bersepatu. Jika bepergian ke Jakarta misalnya, mereka tempuh dengan berjalan kaki selama tiga hari tiga malam. Daftar pantangan tabu bagi mereka masih berderet: Tak bersekolah, menggunakan kaca, menggunakan paku besi, pantang mengkonsumsi alkohol dan berternak binatang yberkaki empat, dan masih banyak lagi.
Prinsip kearifan yang dipatuhi secara turun temurun oleh masyarakat Baduy ini membuat mereka tampil sebagai sebuah masyarakat yang mandiri, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Karena itu, ketika badai krisis keuangan global melanda dunia, dan merontokkan pertahanan ekonomi kita di awal tahun milennium ini, suku Baduy terbebas dari kesulitan itu. Hal itu berkat kemandirian mereka yang diterapkan dalam prinsip hidup sehari-hari.
Orang Baduy tak saja mandiri dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Mereka tak membeli beras, tapi menanam sendiri. Mereka tak membeli baju, tapi menenun kain sendiri.. Kayu sebagai bahan pembuat rumah pun mereka tebang di hutan mereka, yang keutuhan dan kelestariannya tetap terjaga. “Dari 5.136,8 hektar kawasan hutan di Baduy, sekitar 3.000 hektar hutan dipertahankan untuk menjaga 120 titik mata air”, kata Jaro Dainah, kepala pemerintahan (jaro pamarentah) suku Baduy.
Kemandirian mereka dari hasrat mengonsumsi sebagaimana layaknya orang kota, antara lain tampak pada beberapa hal lainnya. Untuk penerangan, mereka tak menggunakan listrik. Dalam bercocok tanam, mereka tak menggunakan pupuk buatan pabrik. Mereka juga membangun dan memenuhi sendiri kebutuhan untuk pembangunan insfrasuktur seperti jalan desa, lumbung padi, dan sebagainya.
Orang tak bisa menuding begitu saja, bahwa suku Baduy Dalam terbelakang. Ternyata, mereka menguasai teknik pertanian dan bercocok tanam dengan baik, sembari tetap menjaga kelestarian lingkungan. “Mereka memang tak bersekolah. Belajar di ladang dan menimba kearifan hidup di alam terbuka adalah sekolah mereka”, tutur Boedihartono, antropolog dari Universitas Indonesia, yang pernah meneliti suku Baduy selama beberapa tahun. “Yang amat menggembirakan, tingkah laku yang meneladani moralitas utama, menjadi acuan utama bagi kepribadian dan perilaku orang Baduy dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perkataan dan tindakan mereka pun polos, jujur tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar. Karena itu, banyak merasa senang jika berurusan dengan orang Baduy karena mereka pantang merugikan orang lain”, ujarnya lagi.
Untuk menjaga kemurnian adat dari pencemaran budaya luar yang dibawa para wisatawan dalam mengunjungi kawasan pemukiman kaum Baduy, sesekali jaro (kepala desa) Baduy Dalam melakukan sidak ke desa Baduy Luar. Itu untuk meneliti apakah ada benda-benda yang bisa melunturkan kepercayaan mereka. Mereka kadang menyita radio yang dianggap melunturkan kepercayaan adat mereka. Selama ini, tanpa bunyi sepeda motor, radio, televisi dan mesin apa saja apa saja yang menimbulkan asap dan bunyi-bunyian, maka desa-desa Baduy adalah titik tenang. Bunyi gemeletak alat penenun menjadi irama lembut yang menemani keheningan alam di sana.
Akan tetapi, amatlah sukar menjaga keheningan tetap bertahan dalam dunia modern yang serba hiruk pikuk ini.  Misalnya kini, mulai tampak anak-anak Baduy yang “meninggalkan” pakaian tradisional mereka, berupa kain tenunan tangan dengan warna hitam dan putih, dengan memakai kaos ala seragam kesebelasan sepakbola Italia yang “berteriak” dengan warna-warni meriah. Mereka yang selama ini menabukan jual beli dan penggunaan uang, dengan menetapkan pola barter, akhirnya mulai terlibat proses dagang.



PEMERINTAHAN
Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah Camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".
Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT LUAR
Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya  Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan Seba (halaman belum tersedia) ke  Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati  Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa-menyewa tanah, dan tenaga buruh.
Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara  Barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang Rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para Tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.
Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.
Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

PENUTUP
Keberadaan suku baduy di daerah Rangkas Bitung – Banten bukan lagi hal yang asing bagi masyarakat indonesia, khususnya bagi masyarakat Banten itu sendiri. Keterbukaan masyarakt suku baduy terhadap masyarakat luar memudahkan bagi para sejarawan untuk mengetahui lebih dalam lagi dan melakukan penelitian akan sejarah suku Baduy alias Orang Kanekes yang lebih terperinci.
Hari ini masyarakat suku baduy tidak lagi menjadi mayarakat atau kelompok yang suka berpindah-pindah tempat (nomaden) seperti yang dikatakan para ahli sejara. Pola hidup mereka berubah menjadi komunitas yang menetap karena mereka telah mampu bercocok tanam (bertani) yang merupakan mata pencahariannya bahkan telah terbentuk pemerintahan untuk mengatur masyarakat suku baduy itu sendiri. Bahkan masyarakat baduy luar sudah mulai bersosialisasi layaknya masyarakat moderen.
Suku baduy adalah satu dari ratusan bahkan ribuan suku-suku yang menghuni tanah nusantara ini, dan ini adalah bukti kekayaan akan keanekaragaman budaya Negara kita Indonesia dan selayaknya kita berbanga dengan ini. Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa sehingga kita bisa saling kenal satu sama lainnya.

REFERENSI
  • Adimihardja, K. (2000). Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia air pemelihara sungai, Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Jan-Apr 2000, hal 47 – 59.
  • Garna, Y. (1993). Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Seri Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.
  • Permana, C.E. (2003). Arca Domas Baduy: Sebuah referensi arkeologi dalam penafsiran ruang masyarakat megalitik, Indonesian Arheology on the Net,
  • Permana, C.E. (2003). Religi dalam tradisi bercocok tanam sederhana, Indonesian Arheology on the Net.
·         http://sukubaduydalam2.blogspot.com/2012/11/sejarah-suku-baduy-dalam.html
·         http://kebudayaankesenianindonesia.blogspot.com/2012/06/suku-baduy-di-provinsi-banten.html
·         http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Sunda"